Mengapa Kami Menolak Kata "Konten"
Kata itu membuat karya terdengar seperti isian wadah. Padahal yang kita bicarakan adalah lagu, film, tulisan — hal-hal yang dibuat orang dengan sungguh-sungguh.

Setiap kali seseorang menyebut lagu sebagai "konten", ada yang hilang. Lagu itu mungkin ditulis jam tiga pagi setelah patah hati; filmnya mungkin dibiayai dari tabungan tiga tahun. Menyebutnya "konten" menyamakan karya itu dengan pengisi ruang kosong di antara iklan.
Kata membentuk cara kita menghargai
Di ruang redaksi ini kami sepakat memakai kata yang lebih tepat: karya, tulisan, lagu, film. Bukan karena sok suci — tetapi karena bahasa menentukan sikap. Media yang menyebut semuanya "konten" akan memperlakukan penulisnya sebagai mesin isian.
Ini juga alasan kami membangun sistem bagi hasil untuk kontributor. Karya yang dihargai dimulai dari kata, dan diselesaikan dengan transfer yang tepat waktu.
Apa artinya untuk pembaca
Anda tidak akan menemukan umpan klik di sini. Judul kami menjanjikan sesuatu, dan isinya menunaikan janji itu. Kalau kami gagal, kolom komentar terbuka — tegur kami.
Geser layar ke kiri untuk lanjut membaca


